Artikel ini mengulas kisah nyata Anissa-sensei, tutor Cetta Japanese, mengenai suka duka menjalani kehidupan akademik dan bekerja di Jepang.
Banyak pemula sering kali mendambakan tinggal di Negeri Sakura namun merasa cemas membayangkan realitas adaptasi budaya dan ketatnya persaingan di sana.
Rasa takut menghadapi kendala bahasa di tahun 2026 ini bisa membuatmu menunda persiapan penting secara tidak sengaja.
Cetta hadir membawa ulasan rincian gaji kerja sampingan, tantangan bahasa, hingga strategi adaptasi agar mimpimu merantau berjalan dengan lancar.

Profil Anissa-Sensei dan Jalur Beasiswa di Jepang
Anissa-sensei saat ini menetap di wilayah Hyogo, sebuah kawasan strategis yang dekat dengan pusat kota Kobe dan Osaka. Beliau sedang menempuh pendidikan tinggi di senmon gakko atau sekolah kejuruan khusus untuk sektor caregiver.
Pendidikan spesifik di bidang perawatan lansia ini berhasil beliau tempuh melalui program beasiswa penuh dari pemerintah daerah Hyogo-ken. Langkah awal yang inspiratif ini bisa menjadi target jangka panjang bagi kamu yang sedang merintis cara belajar bahasa Jepang dari nol.
Tingginya Kebutuhan Profesi Caregiver di Jepang
Negara Jepang saat ini tengah menghadapi fenomena aging population akibat ketidakseimbangan jumlah lansia dengan generasi muda. Kondisi demografi tersebut memicu lonjakan permintaan tenaga perawat medis profesional secara besar-besaran di berbagai kota.
Ilmu perawatan ini tidak hanya membuka peluang karier global yang menjanjikan, tetapi juga sangat aplikatif untuk kehidupan pribadi. Pengetahuan medis yang didapatkan di ruang kelas dipastikan akan sangat berguna untuk membantu merawat orang tua di tanah air.
Apakah harus bisa bahasa Jepang untuk kerja di Jepang?
Kemampuan bahasa Jepang menjadi salah satu syarat penting untuk bisa belajar dan bekerja di Jepang. Menurut Anissa-sensei, program senmon gakko memiliki standar kemampuan bahasa tertentu.
“Kalau masih N3, bisa ikut tetapi nanti 6 bulan sekolah bahasa dulu. Aku sudah N2, jadi bisa langsung belajar senmon gakko,” kata Anissa-sensei, menjelaskan perbedaan jalur yang bisa diambil tergantung level bahasa.
Ia juga menambahkan bahwa kebanyakan orang Jepang tidak terlalu menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, sehingga kemampuan bahasa Jepang akan sangat membantu dalam komunikasi.
Banyak pelamar sering bimbang membandingkan metode belajar JLPT otodidak dan kursus mana yang lebih baik? untuk mengejar level aman. Penguasaan level N2 akan membuatmu bisa langsung mengikuti kelas kejuruan tanpa perlu melewati sekolah bahasa tambahan.
Apa saja tantangan belajar di Jepang?
Tantangan yang dihadapi tidak hanya pada bahasa sehari-hari, tetapi juga istilah teknis sesuai bidang yang dipelajari, seperti istilah medis dalam dunia kesehatan.
Anissa-sensei mengaku sempat kaget karena proses pembelajaran langsung menggunakan bahasa Jepang secara penuh. Namun, ia merasa terbantu karena para pengajar sangat suportif dan selalu menjelaskan materi sampai benar-benar dipahami oleh murid.
Bagaimana kehidupan sehari-hari di Jepang?
Sebelum tinggal di Hyogo, Anissa-sensei sempat tinggal di Tokyo dan bahkan pernah mengikuti senmon gakko di bidang fashion. Saat ini, kesehariannya cukup padat karena harus membagi waktu antara sekolah, mengajar sebagai tutor di Cetta Japanese, dan bekerja part-time (baito).
Di Jepang, bekerja part-time adalah hal yang sangat umum. Anissa-sensei bekerja di rumah sakit dengan upah sekitar 1000 yen per jam. Dalam seminggu, ia bisa mendapatkan sekitar 20.000 yen, yang cukup membantu untuk kebutuhan sehari-hari dan menabung.
Lebih enak tinggal di kota atau desa di Jepang?
Menurut Anissa-sensei, ada perbedaan yang cukup terasa antara tinggal di kota besar seperti Tokyo dan di daerah yang lebih kecil seperti Hyogo.
“Enaknya tinggal di kota, konbini seperti Lawson, Family Mart, Seven Eleven bertebaran,” kata Anissa-sensei, menggambarkan kemudahan akses di kota besar. Namun, ia juga menjelaskan bahwa di daerah tempat tinggalnya sekarang, “kalau di sini, harus jalan kaki 20 menit dulu untuk ke konbini terdekat.”
Meski begitu, suasana desa memiliki kelebihan tersendiri. “Orang-orangnya lebih ramah dan suka menyapa, kalau di Tokyo cenderung sendiri-sendiri,” kata Anissa-sensei, yang merasa lingkungan desa lebih hangat dan nyaman.
Apa alasan Anissa-sensei betah di Jepang?
Salah satu alasan utama Anissa-sensei betah adalah suasana yang lebih tenang dan mendukung gaya hidup hemat.
“Di Jepang betah, lebih nyaman dan lebih tenang, apalagi sekarang di desa, lebih hemat karena jauh ke mana-mana,” kata Anissa-sensei, yang merasa kondisi ini justru membantunya untuk fokus dan menabung lebih banyak.
Apa tantangan terbesar tinggal di Jepang?
Selain bahasa dan adaptasi budaya, tantangan lain yang cukup terasa adalah perubahan musim, terutama musim dingin (fuyu).
Menurut Anissa-sensei, musim dingin menjadi salah satu periode yang paling berat untuk dijalani karena suhu yang sangat rendah dan aktivitas yang jadi lebih terbatas.
Bagaimana suasana Jepang saat musim dingin dan akhir tahun?
Saat musim dingin, Jepang dihiasi dengan illumination atau lampu-lampu hias yang mempercantik suasana kota.
“Kalau di Indonesia, seperti lampu tumblr,” kata Anissa-sensei, menggambarkan suasana tersebut.
Pada periode ini juga terdapat winter break, di mana banyak orang memanfaatkannya untuk pulang ke kampung halaman atau berlibur ke daerah bersalju. Perayaan Natal dan Tahun Baru di Jepang lebih bersifat sebagai event dibandingkan perayaan keagamaan.
“Anak muda biasanya nge-date di malam sebelum natal, kalau keluarga biasanya berkumpul makan malam,” kata Anissa-sensei, menjelaskan kebiasaan masyarakat Jepang saat akhir tahun.
Apakah protokol kesehatan masih berlaku di Jepang?
Meskipun pandemi sudah mereda, protokol kesehatan di Jepang masih tetap dijalankan dengan cukup ketat. Anissa-sensei juga menyebutkan bahwa kasus COVID-19 masih ada, meskipun jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya.

Tertarik tinggal di Jepang? Harus mulai dari mana?
Dari pengalaman Anissa-sensei, bisa disimpulkan bahwa kemampuan bahasa Jepang menjadi kunci utama untuk bisa beradaptasi, belajar, dan bekerja dengan lancar di Jepang. Tanpa kemampuan bahasa yang cukup, proses komunikasi dan pembelajaran akan menjadi jauh lebih sulit.
Wujudkan Impian Merantaumu ke Jepang Bersama Cetta Online Class!
Di Cetta Japanese ada kelas Shokyuu dan kelas Shokyuu 2 intensif untuk membantu kamu mencapai level JLPT yang dibutuhkan.
Keunggulan kelas Shokyuu:
- Pembelajaran bahasa Jepang yang fun learning tanpa stres, seru dan interaktif.
- Kelas fleksibel dengan memilih kelas weekday atau weekend sesuai dengan waktu belajarmu.
- Materi bahasa Jepang lengkap yang berfokus pada kosakata, tata bahasa, kanji, dan latihan soal.
Masih bingung harus mulai dari mana? Atau ingin tahu kelas yang paling cocok untuk kamu? Yuk, hubungi admin Cetta Japanese sekarang dan mulai persiapan kamu tinggal di Jepang!