Pernah melihat adegan karyawan kantoran di anime atau dorama Jepang yang berkumpul bersama rekan kerja dan atasan di izakaya sepulang kerja?
Gambaran itu memang punya kaitan dengan budaya nomikai Jepang, tetapi praktiknya tidak sesederhana yang sering ditampilkan di layar.
Nomikai (飲み会) berarti acara berkumpul untuk minum, sementara nominication merupakan istilah gabungan dari nomu (飲む, minum) dan communication untuk menggambarkan komunikasi yang terjalin melalui acara minum bersama.
Kalau kamu ingin memahami mengapa interaksi sosial di Jepang kadang terasa berbeda dari kebiasaan di Indonesia, mengenali karakteristik orang Jepang juga bisa menjadi bekal sebelum membahas budaya nomikai lebih jauh.

Kenapa Nomikai Dianggap “Kewajiban Tak Tertulis” di Dunia Kerja Jepang?
Nomikai memang pernah memiliki posisi kuat dalam budaya kerja Jepang, tetapi saat ini keikutsertaan dalam acara minum bersama tidak bisa dianggap sebagai kewajiban bagi seluruh pekerja atau perusahaan.
Salah satu gambaran perubahan tersebut terlihat dari survei Tokyo Shōkō Research yang dikutip Nippon.com, hanya 59,6 persen perusahaan yang mengadakan pesta akhir tahun atau Tahun Baru pada 2024, hampir 20 poin persentase lebih rendah dibandingkan 2019. Alasan yang muncul antara lain rendahnya kebutuhan dan meningkatnya keberatan karyawan terhadap acara semacam itu.
Meski begitu, nomunication masih membantu menjelaskan mengapa alasan orang Jepang mengadakan nomikai kantor tidak selalu sekadar untuk minum.
Acara ini secara historis menjadi kesempatan untuk berbicara lebih santai, mempererat hubungan dengan kolega, serta berinteraksi dengan atasan di luar suasana kantor yang formal.
Menariknya, survei yang sama menunjukkan bahwa sebagian pekerja masih melihat manfaat pertemuan tatap muka setelah meningkatnya pola kerja yang lebih beragam, alasan populer untuk mengikuti pesta minum antara lain ingin mempererat hubungan dengan kolega, berbicara langsung, dan membangun relasi dengan atasan.
Jadi, apa itu nomikai Jepang dan tujuannya? Secara sederhana, nomikai adalah pertemuan sosial untuk minum dan makan bersama, sedangkan dalam konteks pekerjaan, fungsinya dapat mencakup membangun relasi dan menciptakan ruang komunikasi yang lebih informal, tanpa berarti semua pekerja Jepang wajib mengikutinya.
Sejarah Singkat dan Filosofi Nomikai
Untuk memahami mengapa nomikai pernah begitu dekat dengan kehidupan kerja di Jepang, kamu perlu mengenal konsep honne (本音) dan tatemae (建前).
Honne merujuk pada perasaan atau pendapat pribadi, sedangkan tatemae adalah sikap atau ucapan yang disesuaikan dengan tuntutan situasi sosial. Konsep ini juga ditemukan dalam penelitian mengenai hubungan antar rekan kerja di Jepang.
Dalam lingkungan kerja yang formal dan hierarkis, tatemae dapat membantu menjaga hubungan tetap harmonis, sementara pendapat pribadi tidak selalu disampaikan secara langsung.
Pertemuan informal setelah kerja, termasuk makan dan minum bersama, secara historis menjadi salah satu ruang yang memungkinkan percakapan berlangsung lebih terbuka.
Karena itu, nomikai kerap dikaitkan dengan nominication 飲みニケーション (nominikeeshon), yaitu komunikasi yang terjalin melalui kegiatan minum bersama. Namun, kurang tepat jika alkohol dianggap otomatis membuat seseorang mengungkapkan honne (perasaan, keinginan, atau pendapat sebenarnya yang dimiliki seseorang), kedekatan antara peserta, dan konteks hubungan juga berpengaruh.
Jenis-Jenis Nomikai Populer di Lingkungan Kantor dan Sosial
Nomikai tidak hanya berlangsung sebagai acara minum biasa, tetapi juga muncul dalam berbagai momen sosial seperti menyambut anggota baru, menutup tahun, atau merayakan selesainya suatu kegiatan.
Berikut beberapa jenis yang paling umum kamu temui dalam konteks kantor maupun kelompok sosial:
| Jenis Nomikai | Waktu / Momen Pelaksanaan | Tujuan Utama |
| Shinnenkai (新年会) | Awal tahun | Berkumpul dan menyambut tahun baru |
| Bōnenkai (忘年会) | Akhir tahun | Menutup tahun bersama dan bersosialisasi |
| Kangeikai (歓迎会) | Saat ada anggota baru | Menyambut anggota baru dalam kelompok |
| Sōbetsukai (送別会) | Saat anggota meninggalkan kelompok | Memberikan salam perpisahan |
| Uchiage (打ち上げ) | Setelah proyek atau kegiatan selesai | Merayakan selesainya suatu proyek atau kegiatan |
Bōnenkai secara umum diselenggarakan pada akhir tahun, sedangkan shinnenkai berlangsung pada awal tahun.
Sementara itu, kangeikai dan sōbetsukai berkaitan dengan masuk atau keluarnya seseorang dari kelompok, sedangkan uchiage merujuk pada acara perayaan setelah suatu kegiatan selesai.
Panduan Etika Nomikai yang Wajib Dipahami Calon Pekerja
Budaya ini sendiri sedang berubah, survei yang dikutip Nippon tahun 2024 menunjukkan hanya 59,6 persen perusahaan di Jepang yang mengadakan pesta akhir tahun atau tahun baru.
1. Posisi Duduk Sesuai Hierarki Ruangan (Kamiza vs Shimoza)
Dalam tata krama Jepang, kamiza (上座) adalah tempat duduk terhormat yang umumnya berada paling jauh dari pintu, sedangkan shimoza (下座) berada dekat pintu dan biasanya ditempati anggota yang lebih junior atau pihak yang menjadi tuan rumah.
Posisi ini berkaitan dengan hierarki dan kenyamanan tamu, bukan khusus untuk acara nomikai.
Jadi, jika kamu masih baru atau paling junior, pilihan aman adalah menunggu arahan sebelum duduk dan tidak langsung mengambil tempat paling jauh dari pintu.
Dalam praktiknya, tata letak ruangan dan siapa yang menjadi tamu juga bisa memengaruhi posisi duduk.
2. Etika Menuangkan Minuman お酌 (O-shaku) dan Bersulang 乾杯 (Kanpai)
Dalam nomikai tradisional, peserta sering saling menuangkan minuman dari botol bersama, dengan perhatian pada hubungan senior-junior, karyawan yang lebih junior masih kerap diharapkan membantu menuangkan minuman atau membagikan makanan.
Namun, kebiasaan ini tidak lagi bisa dianggap sebagai aturan mutlak. Survei yang dikutip Nippon.com menunjukkan tekanan untuk menuangkan minuman atau menghadiri pesta bahkan dapat dipandang sebagai bentuk harassment, sehingga jangan memaksa orang minum atau memesan alkohol tanpa menanyakan terlebih dahulu.
3. Tata Cara Pembayaran dan Ronde Lanjutan (Nijikai)
Warikan berarti membagi biaya secara patungan, sedangkan nijikai adalah acara atau ronde kedua setelah pesta utama selesai.
Keduanya merupakan praktik yang dapat ditemukan dalam budaya nomikai, tetapi pelaksanaannya bergantung pada kelompok dan acara.
Karena itu, jangan menganggap semua peserta pasti ikut nijikai atau semua orang harus membayar dengan jumlah yang sama. Yang lebih aman adalah mengikuti kesepakatan penyelenggara dan mengonfirmasi pembayaran jika belum jelas.
Tips Survive di Acara Nomikai Bagi Pekerja Asing
Kalau kamu baru pertama kali mengikuti nomikai, beberapa kebiasaan sederhana ini bisa membantu kamu tetap nyaman tanpa harus mengikuti semua tradisi lama secara kaku.
- Boleh menolak Alkohol secara sopan: Kamu tidak harus minum alkohol, teh oolong, minuman nonalkohol, atau minuman lain tetap bisa digunakan untuk ikut kanpai.
- Tetap peka dengan kebutuhan di meja: Dalam nomikai yang masih menerapkan etika tradisional, menawarkan minuman kepada rekan kerja atau senior ketika gelas mereka mulai kosong merupakan bentuk perhatian yang umum.
- Ketahui batasan waktu pulang: Kalau harus mengejar kereta terakhir, kamu boleh pamit lebih dulu dengan ungkapan sopan seperti osaki ni shitsurei shimasu (permisi, saya pulang lebih dulu) daripada memaksakan diri mengikuti nijikai.
- Ucapkan terima kasih keesokan harinya: Jika ada atasan atau rekan yang mentraktir, sampaikan ucapan terima kasih seperti gochisō ni narimashita (terima kasih atas makanannya/traktirannya) sebagai bentuk penghargaan.
Kalau kamu ingin memahami konteks budaya Jepang yang lebih luas sebelum bekerja atau berinteraksi dengan orang Jepang, kamu juga bisa membaca festival budaya Jepang yang unik untuk melihat bagaimana tradisi dan kegiatan sosial Jepang hadir dalam berbagai bentuk.
Sementara itu, karena nomikai juga sangat berkaitan dengan cara berkomunikasi dalam situasi sosial, kamu bisa melengkapi persiapanmu dengan istilah bahasa Jepang yang harus diketahui turis asing.
Beberapa ungkapan dasar seperti sumimasen dan arigatō gozaimasu memang menjadi bagian penting dari komunikasi sopan sehari-hari di Jepang.

Mau Paham Budaya Kerja dan Lancar Bahasa Jepang? Yuk, Belajar Bersama Cetta Japanese!
Bekerja bareng orang Jepang bukan cuma soal menghafal kosakata di buku teks, melainkan juga memahami konteks sosial dan etika berinteraksi di dunia nyata.
Menguasai tata bahasa dan etika sosial di Jepang adalah kunci utama agar kamu bisa berbaur luwes di tempat kerja maupun pergaulan sehari-hari.
Biar kamu makin percaya diri saat berkomunikasi dan tidak canggung menghadapi dinamika kerja di lingkungan profesional Jepang, Cetta Japanese menyediakan berbagai pilihan program kelas yang bisa kamu ikuti:
- Reguler Class: Pilihan pas buat belajar terstruktur dari level dasar bareng teman sefrekuensi dengan ritme santai dan konsisten.
- Intensif Class: Kelas percepatan buat kamu yang mau ngebut mengejar target kemampuan bahasa Jepang untuk studi atau kerja.
- Private 1 on 1: Kursus eksklusif berdua bareng Sensei untuk bedah materi dan etika percakapan bisnis sesuai target pribadimu.
- Small Group Class: Kelas Bahasa Jepang eksklusif terdiri dari 2–4 peserta dengan Sensei dan jadwal pilihan yang fleksibel.
- Japanese Conversation: Kelas khusus untuk melatih kelancaran berbicara dan rasa percaya diri saat berkomunikasi langsung dalam berbagai situasi sosial nyata.
Jangan biarkan rasa canggung atau kendala bahasa membatasi peluang kariermu di lingkungan kerja Jepang.
Amankan slot belajarmu sekarang dan konsultasikan target belajar bahasa Jepangmu secara gratis hari ini di Cetta Japanese!