Cara Mengatur Gaji Selama Kerja di Jepang agar Bisa Menabung dan Kirim ke Keluarga

ilustrasi pekerja yang tau cara mengatur gaji selama kerja di jepang
Daftar Isi

Konnichiwa, Minna! Gimana kabar cetz yang sedang bekerja di Jepang? Sudah tahu belum cara mengatur gaji selama kerja di Jepang? Kalau belum, Cetta Japanese bakal membagikan tips mengatur penghasilan agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, sekaligus mengirim uang ke keluarga di Indonesia.

Pasalnya, selama tinggal di Jepang, cetz perlu pintar mengelola keuangan agar penghasilan tidak habis begitu saja. Selain itu, cetz juga perlu membayar tempat tinggal, membeli makanan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sore kara, issho ni yomimashou!

CTA Banner kursus bahasa Jepang untuk persiapan kerja di Jepang

1. Pahami Gaji Bersih yang Diterima Setiap Bulan

Langkah pertama untuk mengatur keuangan selama bekerja di Jepang adalah memahami jumlah gaji bersih atau take-home pay yang kamu terima. Jangan langsung menggunakan nominal gaji yang tercantum dalam kontrak kerja sebagai patokan anggaran bulanan

Pasalnya, gaji kotor atau gross salary belum tentu sama dengan uang yang masuk ke rekeningmu. Dilansir dari Ministry of Internal Affairs and Communications atau MIAC, sistem penggajian di Jepang mengenal sejumlah potongan, seperti pajak penghasilan, asuransi kesehatan, asuransi pensiun karyawan, dan asuransi ketenagakerjaan. 

Biaya tempat tinggal atau utilitas juga bisa dipotong apabila sesuai dengan ketentuan dan kesepakatan yang berlaku. Oleh sebab itu, cetz wajib mengetahui jumlah gaji bersih yang diterima setiap bulan dengan memeriksa slip gaji atau 給与明細 (kyūyo meisai). 

Jika menemukan potongan yang belum cetz pahami, jangan ragu bertanya kepada bagian administrasi atau penanggung jawab di tempat kerja, ya!

2. Buat Anggaran Bulanan Sebelum Menggunakan Gaji

Setelah mengetahui jumlah gaji bersih, langkah berikutnya adalah membuat anggaran bulanan. Tujuannya agar kamu memiliki gambaran mengenai penggunaan uang sebelum mulai berbelanja atau memenuhi kebutuhan lainnya.

Cetz bisa membagi penghasilan ke dalam beberapa pos keuangan, seperti berikut:

Pos KeuanganKegunaan
Kebutuhan hidupMembayar tempat tinggal, membeli makanan, membayar transportasi, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kiriman keluargaMembantu memenuhi kebutuhan orang tua atau anggota keluarga di Indonesia.
TabunganMenyiapkan dana untuk tujuan keuangan, seperti biaya pendidikan atau modal usaha setelah kembali ke Indonesia.
Dana daruratMengantisipasi pengeluaran mendesak yang tidak direncanakan.
Kebutuhan pribadiMembeli barang yang diperlukan atau menikmati hiburan saat waktu luang.

Pembagian ini memang gak harus sama untuk setiap orang. Namun, cetz bisa menyesuaikannya dengan jumlah gaji bersih, biaya hidup di Jepang, dan tanggungan keluarga.

Misalnya, jika cetz tinggal di asrama perusahaan dengan biaya tempat tinggal yang relatif rendah, cetz mungkin memiliki kesempatan lebih besar untuk menabung. Sebaliknya, pekerja yang tinggal di kota dengan biaya hidup tinggi perlu mengalokasikan anggaran lebih besar untuk kebutuhan pokok.

3. Prioritaskan Kebutuhan Pokok Selama Tinggal di Jepang

Tahukah, cetz, baya hidup menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhitungkan ketika bekerja di Jepang. Selain tempat tinggal, kamu perlu menyiapkan anggaran untuk makanan, transportasi, listrik, air, gas, internet, serta kebutuhan pribadi.

Supaya pengeluaran tetap terkendali, cetz bisa mencoba beberapa cara berikut:

1. Masak Makanan Sendiri

Membeli makanan di luar memang praktis, tetapi jika dilakukan setiap hari, pengeluaran bisa bertambah. Untuk mengatasinya, cetz bisa mencoba memasak sendiri dan membawa bekal ke tempat kerja.

Buatlah daftar belanja mingguan agar cetz bisa membeli bahan makanan sesuai kebutuhan. Selain membantu mengontrol pengeluaran, cara ini juga memudahkan cetz menyiapkan menu yang sesuai dengan selera dan kebutuhan gizi.

2. Catat Pengeluaran Harian

Pengeluaran kecil, seperti membeli minuman, camilan, atau barang kebutuhan mendadak, terkadang sulit disadari jika tidak dicatat. Padahal, jika dilakukan berulang kali, jumlahnya bisa cukup besar.

Cetz bisa menggunakan aplikasi pencatat keuangan atau buku catatan sederhana untuk memantau pengeluaran setiap hari. Dengan begitu, cetz dapat mengetahui po

3. Pertimbangkan Biaya Transportasi

Selain biaya makan dan tempat tinggal, transportasi juga perlu masuk dalam anggaran bulanan. Saat memilih tempat tinggal, pertimbangkan jaraknya dari tempat kerja dan biaya perjalanan yang harus dikeluarkan.

Cetz juga bisa mencari tahu apakah perusahaan menyediakan asrama atau tunjangan transportasi. Jika tersedia, pahami ketentuannya agar cetz bisa memperkirakan pengeluaran dengan lebih akurat.

Ingat, menghemat pengeluaran bukan berarti harus mengorbankan kebutuhan dasar, ya! Pastikan cetz tetap memenuhi kebutuhan makanan bergizi, tempat tinggal yang layak, dan kesehatan.

4. Tentukan Nominal Kiriman Uang untuk Keluarga

Bagi sebagian pekerja Indonesia di Jepang, mengirim uang kepada keluarga merupakan salah satu tujuan utama bekerja di luar negeri. Namun, cetz tetap perlu menentukan nominal kiriman yang sesuai dengan kemampuan finansial agar kebutuhan pribadi tidak terabaikan.

Sebaiknya, tentukan jumlah uang yang akan dikirim setelah memperhitungkan kebutuhan pokok, tabungan, dan dana darurat. Cetz juga bisa mendiskusikan nominal tersebut bersama keluarga agar mereka memahami jumlah uang yang dapat dikirim setiap bulan.

Misalnya, cetz ingin membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga orang tua atau membiayai pendidikan adik. Tentukan nominal yang realistis berdasarkan gaji bersih dan pengeluaran bulanan. 

Dengan begitu, cetz bisa mengirim uang secara rutin tanpa harus mengorbankan kebutuhan sendiri. Jika suatu saat penghasilan berubah atau muncul kebutuhan mendesak, jangan ragu untuk membicarakannya dengan keluarga, ya! 

Jelaskan kondisi keuangan cetz agar nominal kiriman bisa disesuaikan. Pasalnya, menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan dan dana darurat juga penting agar cetz memiliki persiapan finansial untuk masa depan. 

5. Sisihkan Tabungan dan Dana Darurat

Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mengirim uang kepada keluarga, cetz juga perlu menyisihkan sebagian gaji untuk tabungan dan dana darurat. Keduanya memiliki fungsi berbeda, sehingga sebaiknya cetz mengalokasikan anggaran secara terpisah.

Tabungan bisa digunakan untuk mencapai tujuan keuangan yang sudah direncanakan, seperti mengumpulkan modal usaha, membiayai pendidikan, atau mempersiapkan kebutuhan setelah kontrak kerja di Jepang berakhir. Supaya lebih mudah, cetz bisa mencoba beberapa cara berikut.

1. Sisihkan Uang Begitu Menerima Gaji

Jangan menunggu sampai akhir bulan untuk menabung karena uangnya bisa saja sudah habis untuk kebutuhan lain. Sebaiknya, tentukan nominal tabungan sejak awal dan sisihkan segera setelah menerima gaji.

Jumlahnya gak harus besar, kok! Cetz bisa memulai dari nominal yang sesuai dengan kemampuan finansial, kemudian meningkatkannya ketika kondisi keuangan sudah lebih stabil.

2. Pisahkan Tabungan dan Dana Darurat

Agar penggunaannya lebih teratur, cetz bisa menyimpan tabungan dan dana darurat di tempat terpisah. Dengan begitu, uang untuk kebutuhan mendesak gak tercampur dengan tabungan yang sudah dialokasikan untuk tujuan tertentu.

Misalnya, cetz memiliki target mengumpulkan modal usaha setelah kembali ke Indonesia. Uang tersebut sebaiknya dipisahkan dari dana darurat yang digunakan untuk menghadapi kebutuhan tak terduga.

3. Tentukan Target Tabungan yang Realistis

Supaya lebih termotivasi, cetz bisa menentukan target tabungan berdasarkan tujuan dan jangka waktu yang diinginkan. Misalnya, ingin mengumpulkan biaya pendidikan, membeli barang yang dibutuhkan, atau menyiapkan modal usaha setelah masa kerja berakhir.

Sementara itu, dana darurat bisa dikumpulkan secara bertahap hingga mencapai jumlah yang cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok selama beberapa bulan jika terjadi kondisi yang tidak terduga.

6. Pilih Cara Kirim Uang dari Jepang ke Indonesia

Setelah menentukan nominal kiriman untuk keluarga, cetz juga perlu memilih layanan transfer uang yang sesuai dengan kebutuhan. Saat ini, ada beberapa cara mengirim uang dari Jepang ke Indonesia, mulai dari menggunakan layanan remitansi hingga transfer melalui bank.

Berikut beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan:

1. Menggunakan Platform Digital

Cetz bisa memanfaatkan platform digital untuk mengirim uang dari Jepang ke Indonesia. Beberapa layanan yang dapat dipertimbangkan adalah Wise dan Western Union.

Namun, sebelum melakukan transaksi, cetz sebaiknya membandingkan biaya administrasi dan kurs yen ke rupiah dulu, ya. Periksa juga jumlah akhir yang akan diterima keluarga agar bisa memilih layanan yang sesuai dengan kebutuhan.

2. Menggunakan Layanan Bank

Selain platform digital, cetz juga bisa menggunakan layanan transfer internasional dari bank yang beroperasi di Jepang. Berikut beberapa pilihannya.

a. Seven Bank

Seven Bank menyediakan layanan transfer internasional melalui Western Union. Pengiriman dapat dilakukan melalui ATM Seven Bank atau layanan perbankan daring setelah cetz membuka rekening dan mendaftar layanan remitansi.

b. BNI Tokyo

BNI Tokyo menyediakan BNI Remittance Card Service untuk membantu warga Indonesia di Jepang mengirim uang ke rekening bank di Indonesia. Setelah mendaftarkan data penerima dan memperoleh kartu remitansi, cetz dapat menyetorkan uang melalui ATM Yucho Bank di Jepang.

c. BCA melalui Inward Remittance

Jika keluarga cetz memiliki rekening BCA, mereka dapat menerima kiriman dari luar negeri melalui layanan inward remittance. Sementara itu, Poket Valas di myBCA merupakan fasilitas untuk mengelola valuta asing, bukan layanan remitansi tersendiri dari Jepang ke Indonesia.

3. Bandingkan Biaya dan Nilai Tukar

Apa pun layanan yang dipilih, cetz sebaiknya membandingkan biaya administrasi, nilai tukar yen ke rupiah, estimasi waktu pengiriman, dan jumlah akhir yang diterima keluarga. Jangan hanya memilih layanan dengan biaya transfer paling rendah karena kurs juga memengaruhi nominal yang bakal cetz kirim!

7. Evaluasi Pengeluaran dan Target Tabungan Setiap Bulan

Setelah menerapkan berbagai cara mengatur gaji, cetz juga perlu mengevaluasi pengeluaran secara rutin. Tujuannya agar cetz bisa mengetahui apakah anggaran bulanan sudah berjalan sesuai rencana atau masih perlu diperbaiki.

Caranya cukup sederhana, kok! Cetz bisa membandingkan anggaran yang sudah dibuat dengan pengeluaran sebenarnya pada akhir bulan. Periksa pos mana yang masih sesuai rencana dan bagian mana yang menghabiskan uang lebih banyak dari perkiraan.

Misalnya, cetz mengalokasikan ¥20.000 untuk kebutuhan pribadi, tetapi ternyata menghabiskan ¥30.000. Coba cari tahu penyebabnya, apakah karena terlalu sering membeli makanan di luar, berbelanja barang yang tidak terlalu dibutuhkan, atau ada pengeluaran mendadak.

Dari hasil evaluasi tersebut, cetz bisa menyesuaikan anggaran untuk bulan berikutnya. Jika pengeluaran hiburan terlalu besar, misalnya, cetz bisa menguranginya agar alokasi tabungan tetap terpenuhi. Namun, jangan sampai penghematan justru mengorbankan kebutuhan pokok, ya!

Contoh Simulasi Mengatur Gaji Pekerja di Jepang

Supaya lebih mudah memahami cara mengatur gaji selama kerja di Jepang, cetz bisa melihat contoh simulasi pembagian penghasilan berikut. Misalnya, cetz menerima gaji bersih sebesar ¥200.000 per bulan.

Pos KeuanganPersentaseAlokasi per Bulan
Kebutuhan hidup di Jepang40%¥80.000
Kiriman uang untuk keluarga20%¥40.000
Tabungan20%¥40.000
Dana darurat10%¥20.000
Kebutuhan pribadi dan hiburan10%¥20.000
Total100%¥200.000

Namun, perlu diingat bahwa pembagian di atas hanya contoh, ya, cetz! Nominalnya bisa berbeda tergantung jumlah gaji bersih, lokasi tempat tinggal, biaya hidup di Jepang, dan tanggungan keluarga.

Kuncinya, sesuaikan anggaran dengan kondisi keuangan masing-masing dan jangan lupa untuk menambah tabungan atau dana darurat.

CTA Banner kursus bahasa Jepang untuk persiapan kerja di Jepang

Siapkan Masa Depan di Jepang Bersama Cetta Japanese

Nah, sekarang cetz sudah tahu cara mengatur gaji selama kerja di Jepang agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Selain mempersiapkan kondisi finansial, jangan lupa meningkatkan kemampuan bahasa Jepang agar lebih siap menghadapi kehidupan dan dunia kerja di Negeri Sakura.

Lewat Japanese Conversation Program dari Cetta Japanese, cetz bisa melatih kemampuan berbicara bahasa Jepang agar lebih percaya diri saat berkomunikasi dalam berbagai situasi. Program ini cocok untuk cetz yang ingin meningkatkan kelancaran percakapan sebagai bekal beraktivitas di Jepang.

Gak cuma itu, cetz juga bisa mempertimbangkan kelas Joukyuu Intensif  untuk belajar bahasa Jepang secara intensif dan mengejar target JLPT N2 dalam waktu singkat.

Di kelas ini, cetz akan mendapatkan berbagai keuntungan, seperti:

  • Kurikulum intensif dan terstruktur yang membantu mengejar target kemampuan bahasa Jepang dalam waktu lebih singkat.
  • Fokus pada percakapan dunia kerja agar terbiasa menggunakan bahasa Jepang dalam situasi nyata.
  • Tutor profesional berpengalaman yang siap membimbing mulai dari dasar hingga persiapan ujian.
  • Kelas live interaktif via Zoom sehingga Cetz dapat langsung berlatih speaking dan mendapatkan feedback.
  • Akses ke komunitas pembelajar bahasa online terbesar di Indonesia, yaitu Cetta Virtual Society. 

Dengan bekal bahasa yang memadai, cetz bisa lebih percaya diri saat berinteraksi dengan rekan kerja dan memahami instruksi yang diberikan. 

Yuk, persiapkan kariermu di Jepang bersama Cetta Japanese! Langsung konsultasikan program belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan targetmu bersama admin Cetta Japanese. Issho ni manabimashou!

Daftar Isi
Artikel Terbaru
ilustrasi perempuan yang takut terhadap hantu jepang paling menyeramkan
7 Hantu Jepang Paling Menyeramkan versi Cetta, Bikin Merinding!

Konnichiwa, Minna! Tahukah cetz, Jepang bukan cuma terkenal…

mahasiswi penerima Ajinomoto Scholarship
Ajinomoto Scholarship: Syarat Lengkap dan Timeline Apply

Konnichiwa, Minna! Ingin melanjutkan studi S2 di Jepang…

Cover Seperti Apa Budaya Olahraga Jepang, Ini Fakta Menariknya!
Seperti Apa Budaya Olahraga Jepang? Ini Fakta Menariknya!

Budaya olahraga Jepang memperlihatkan hubungan antara sejarah, tradisi,…